Rabu, April 18, 2012

Primadona Pasar Militer Global - India Yang Ingin Menjadi Negara Adidaya

Dipicu untuk menjadi negara adidaya dan persaingan dengan Cina tetapi terhambat karena industri dalam negeri yang berderit, India lalu berfoya-foya membeli persenjataan militer yang membuatnya menjadi primadona pasar militer global. Ada pula yang beranggapan bahwa India adalah orang udik kecil dengan kantong yang penuh uang dan berusaha untuk membeli semua yang dilihatnya.


Daftar panjang belanja India antara lain 20 miliar dolar untuk jet tempur, 1,5 miliar dolar untuk bahan bakar pesawat dan miliaran dolar lainnya untuk membeli kapal selam, tank, artileri dan perlatan perang lainnnya. Semua itu adalah bagian dari daftar belanja mereka yang berjumlah 80 miliar dolar untuk 5 tahun kedepan.

Kita ketahui bahwa hubungan India dan Cina memang tidak harmonis, salah satunya dikarenakan sengketa perbatasan sepanjang 2.800 mil antara India Cina. Yang menambah ketidaknyamanan India adalah kenangan kekalahannya oleh orang Cina dalam perang perbatasan pada tahun 1962. Tidak hanya dengan Cina, India dari dulu terus bersengketa dengan Pakistan yang notabene sekutu dari cina. Situasi India tersebut semakin menguatkan kemungkinan bahwa India akan berperang dengan cina dan Pakistan (two front war).

Menurut Stockholm International Peace Research Institute, India adalah negara terbesar dalam hal mengimpor senjata untuk kurun waktu 2007-2011, diikuti Korea Selatan, Pakistan dan Cina. Meskipun anggaran tahunan militer "The Middle Kingdom's" Cina (106 miliar dolar) hampir 3 kali lipat lebih besar dari India, tapi Cina hanya mengimpor 10% dari seluruh kebutuhan persenjataan mereka. Perluasan yang cepat dari industri pertahanan dalam negeri Cina menghasilkan kebutuhan 90% dari jumlah seluruh kebutuhan pertahanannya. Bandingkan dengan India yang mengimpor 70% dari seluruh kebutuhan pertahanannya.

Kapal Selam India AKULA-II
Tingkat kegelisahan India terlihat dalam rencana untuk menambahkan divisi "Three Army" yang berjumlah 90.000 tentara di sepanjang perbatasannya. Beijing bukanlah diam, fokus Beijing adalah kepada militer AS dan bukan kepada India, kata analis. Cina memiliki high ground yaitu dataran tinggi Tibet (kunci Cina dalam setiap konflik perbatasan), transportasi dan hardware yang lebih unggul, kereta api dan jalur yang baik. Dengan beberapa perkiraan, Cina dapat menggelar pasukan hanya dalam waktu 1 minggu, sedangkan India akan membutuhkan waktu sekitar 3 minggu.

Delhi juga harus berhadapan dengan Angkatan laut cina, yang telah siap untuk menantang keunggulan tetangganya di samudera Hindia. Kapal induk pertama Beijing mulai uji laut pada bulan Agustus lalu dan 3 kapal induk lainnya segera akan menyusul kesuksesan kapal induk pertama. Meskipun fokus tradisional Cina adalah pada selat Taiwan dan laut Cina Selatan, Cina juga membiayai pembangunan pelabuhan di Srilanka, Myanmar, Pakistan, Bangladesh dan juga meregangkan otot dalam misi anti perompakan di lepas pantai Somalia.

India telah berusaha mendapatkan kapal induk dari Rusia setidaknya sudah 4 tahun, tapi biaya kini dilaporkan semakin membengkak 2 kali lipat menjadi 2,3 miliar dolar. Untuk saat ini India cuma bisa berharap pada kapal induk eks Inggris tahun 1950 an untuk melengkapi armada lautnya. India berharap dengan belanja militernya akan membantu memodernisasi desain, teknik, industri perakitan dan membantu membalikkan rekor gagal produksi senjata dalam negeri. "India telah mencoba sejak 1950-an untuk memproduksi sendiri kebutuhan mliter mereka tetapi India telah gagal total", kata Siemon T. Wezeman, anggota senior Stockholm.

Setelah Uji coba terakhirnya pada tank Arjun-nya, India dengan bangga mengumumkan telah mengungguli Rusia T-90. "Tapi T-90 adalah di akhir 1980-an atau 1990-an awal", kata Lunde. "Itu bukan perbandingan yang tepat dan versi Cina sesungguhnya telah jauh melampaui T-90 klasik".

Tank Arjun
Proyek pesawat Tejas India pun masih belum menghasilkan setelah 29 tahun pembangunan, ini juga salah satu dari beberapa proyek "black hole" nya India. Antara 2008 dan 2012, dalam pengamatan beberapa negara, India masih terbang dengan pesawat tempur MIG, 27 unit telah mengalami kecelakaan dalam kurun waktu tersebut, media lokal bahkan menjuluki mereka dengan "peti mati terbang". Angkatan bersenjata India juga telah terperosok dalam skandal korupsi real estate, pengadaan hardware dan bahkan peti mati.

Pekan lalu, kepala militer Jenderal V.K. Singh memicu badai politik dengan mengungkapkan bahwa dia telah ditawari uang sebesar 2,8 juta dolar pada 2010 yang katanya dia tidak menyetujui -investigasi tidak pernah dilakukan- pengiriman 600 truk substandar buatan Ceko. Kendaraan tersebut akhirnya dibeli sebesar 200 ribu dolar per unit, dengan catatan setengahnya dijual di eropa timur.

Sebuah bocoran surat yang ditulisnya kepada perdana menteri menjelaskan bahwa peralatan pertahanan udara India 97 persen sudah usang, artileri dan infanteri dalm keadaan mengkhawatirkan dan tank-tank tanpa amunisi. Berita itu pecah saat Presiden Cina Hu Jintai mengikuti konferensi global.